METABOLISME LEMAK PADA TERNAK RUMINANSIA

 

Lemak merupakan zat makanan yang umumnya memiliki jumlah yang kecil pada makanan ternak. Pada pakan ternak ruminansia, lemak terdapat dalam hijauan maupun konsentrat. Kandungan lemak dalam hijauan pakan berkisar 3-10 % yang terdiri dari glukolipid. Lemak yang terdapat dalam rumen ternak ruminansia terdiri atas lemak pakan, lemak ptotozoa dan lemak bakteri . Metabolisme lemak dalam rumen memiliki dampak yang besar terhadap profil asam lemak yang tersedia untuk diserap dan digunakan oleh jaringan tubuh. Pencernaan lemak pada ternak ruminansia dimulai di dalam rumen.

Proses yang pertama adalah hidrolisis (lipolisis). Pada proses ini lemak akan diputuskan ikatan ester trigliserida, fosfolipid, dan glikolipid yang dilakukan oleh bateri rumen. Pada proses ini dihasilkan asam lemak, gliserol, dan galaktosa. Hasil tersebut siap dimetabolisme secara lanjut. Asam lemak tak jenuh akan dijumpai juga pada proses ini. Asam lemak tak jenuh (linoleat dan linolenat) akan dipisahkan dari asam lemak, gliserol, dan galaktosa. Setelah dipisahkan asam lemak jenuh tersebut akan diubah menjadi VFA. Bakteri Anaerovibio lipolytical digunakan untuk hidrolisis trigliserida. Bakteri Butyrivibrio fibrisolven digunakan untuk menghidrolisis phospolipid dan glikolipid. Beberapa faktor dapat mempengaruhi proses hirolisis pada rumen diantaranya level lemak, pH , dan ionophon bakteri rendah.

Proses kedua adalah hidrogenasi atau biohidrogenasi. Proses ini terjadi pada asam lemak tak jenuh hasil proses hidrolisis dalam rumen. Terjadi isomerisasi dari ikatan cis menjadi trans. Isomerisasi menyebabkan pengurangan asam lemak tak jenuh. Biohidrogenasi menyebabkan lemak esensial rusak namun ternak tidak mengalami defisiensi. Lemak esensial dapat memenuhi kebutuhan lemak pada ruminansia.

Kebanyakan lipid pada ruminan masuk ke duodenum sebagai asam lemak bebas dengan kandungan asam lemak jenuh yang tinggi. Lemak akan diserap oleh duodenum. Asam lemak rantai pendek hasil hidrolisis akan diserap oleh dinding rumen. Asam lemak rantai panjang akan masuk ke dalam epithelium dan usus halus. Pada usus halus lemak akan disintesis menjadi gliserida dan asam lemak oleh enzim lipase. Asam lemak C14 membentuk trasil gliserol dalam epithel usus. Triasil gleserol, fosfolipid dan kolesterol membentuk kilomikron dan masuk ke peredaran darah untuk diedarkan ke seluruh tubuh.

Gambar  1. diatas memperlihatkan proses metabolisme lemak pada ternak ruminansia di dalam  rumen dan pasca rumen. Lemak yang masuk ke dalam rumen akan mengalami proses hidrolisis oleh bakteri rumen seperti Anaerovibrio lipolytica dan Butyrivibrio fibrisolvens  yang akan mengeluarkan enzim lipase,galactosidase dan phospholipase. Lock et al. (2006) menyatakan bahwa bakteri memegang peranan penting dalam proses hidrolisis lemak walaupun protozoa juga mampu menghidrolisis lemak. Tingkat hidrolisis lemak di dalam rumen sangat tinggi yaitu lebih dari 85% lemak terhidrolisis menjadi asam lemak bebas, gula, fosfat dan gliserol. Gliserol dan gula akan mengalami proses perubahan menjadi asam lemak terbang (volatile fatty acid: VFA) dan kemudian VFA digunakan untuk membentuk sel mikroba rumen. Asam lemak bebas di dalam rumen kemudian akan mengalami beberapa proses yaitu proses isomerisasi dari posisi “cis” menjadi “trans” dan proses biohidrogenasi sehingga asam lemak yang tidak jenuh akan menjadi asam lemak jenuh serta proses konjugasi pada asam lemak tidak jenuh (lebih dari 2 ikatan rangkap) sehingga terbentuk asam lemak konjugasi (contohnya: conjugated linoleic acid: CLA) (Bauman dan Lock 2006). Proses biohidrogenasi terjadi tidak secepat proses lipolisis tetapi proses biohidrogenasi akan mengurangi pengaruh negatif dari asam lemak tidak jenuh terhadap bakteri rumen. Selain itu, proses biohidrogenasi merupakan proses untuk menghilangkan kelebihan hidrogen yang terbentuk selama proses fermentasi rumen. Proses biohidrogenasi asam lemak tidak jenuh juga berguna karena mengurangi pengaruh asam lemak tidak jenuh yang menekan pertumbuhan bakteri-bakteri rumen. Proses biohidrogenasi melibatkan dua grup bakteri rumen (grup A dan B) (Lock et al. 2006). Grup A terdiri dari bakteri-bakteri yang menghidrogenasi asam lemak tidak jenuh menjadi asam lemak trans 18:1. Dalam proses biohidrogenasi di dalam rumen terbentuk senyawa antara (intermediate) yang sangat spesifik yaitu “cis” 9, “trans” 11 asam linoleat konjugasi (CLA) dan senyawa ini mempunyai pengaruh yang menguntungkan manusia karena bersifat anti kanker dan anti atherogenic. Bakteri grup B hanya terdiri dari beberapa spesies bakteri rumen yang berfungsi dalam proses akhir hidrogenasi asam lemak trans 18:1 menjadi asam stearat (Bauman dan Lock 2006). Tingkat hidrogenasi dari asam lemak tidak jenuh bervariasi dari 70-100% menjadi asam lemak jenuh yaitu asam stearat, yang merupakan asam lemak yang paling banyak lewat dari rumen dan masuk ke duodenum.

Asam lemak yang keluar dari rumen dan masuk ke duodenum biasanya menempel pada partikel pakan atau bakteri. Asam lemak akan terlarut oleh garam empedu. Lesitin yang merupakan fosfolipida mikroba akan dihidrolisis oleh enzim fosfolipase membentuk lysolesitin. Asam lemak, garam empedu dan lysolesitin akan membentuk misel (bulatan-bulatan kecil). Misel inilah yang memungkinkan asam lemak diserap di dalam usus (jejunum). Pada sel epitel di usus kecil, asam lemak mengalami proses esterifikasi dan triacylgliserol dan phospholipid akan diikat ke dalam chyclomicron dan very low density lipoprotein(VLDL) dan dibawa ke kelenjar limpa (Doreau dan Chilliard 1997).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKNIK BIOKIMIA